Serunya Pentas Musik dan Budaya Meriahkan Rangkaian Perayaan HUT ke-9 Yayasan Kawan Lamo Galo

Fitriansyah Sutrisno alias Mpit, Ketua Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang (Dok. Humas Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang)
Fitriansyah Sutrisno alias Mpit, Ketua Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang (Dok. Humas Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang)

PALEMBANG, INDODAILY.CO – Menjadi salah satu komunitas musisi dan seniman di Sumatera Selatan (Sumsel), kini Yayasan Kawan Lamo Galo akan menginjakkan kaki ke umur 9 tahun.

Jelang acara puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-9, Yayasan Kawan Lamo Galo mempersiapkan serangkaian event hingga perhelatan acara inti bertajuk ‘Kawan Lamo Part 5 + 9 Tahun Kawan Lamo’. Puncak event tersebut akan digelar pada tanggal 9 September 2026 mendatang.

Fitriansyah Sutrisno, Ketua Yayasan Kawan Lamo Galo berkata, untuk rangkaian perayaan HUT ke-9, Yayasan Kawan Lamo Galo menggelar konsep reuni dan jamming, yang dimulai pada Sabtu (20/6/2026) malam di GenZ kafe di kawasan Celentang Palembang.

Reuni dan Jamming tersebut diisi oleh para musisi dan aktivis dari berbagai komunitas di Kota Palembang Sumsel, dengan membawakan lagu-lagu era 90’an. Suasana pun semakin meriah, ketika lagu-lagu lawas yang dibawakan sukses membawa para pengunjung mengenang masa indah di masa lalu.

Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang menggelar berbagai pentas musik dan budaya, dalam rangka perayaan HUT ke-9 di tahun ini (Dok. Humas Yayasan Kawan Lamo Galo)
Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang menggelar berbagai pentas musik dan budaya, dalam rangka perayaan HUT ke-9 di tahun ini (Dok. Humas Yayasan Kawan Lamo Galo)

“Kita berkumpul bareng kawan-kawan musisi Sumsel, aktivis dan media. Acaranya mengusung lagu-lagu tahun 90-an, buat kenangan dan silaturahmi,” ujar Mpit, sapaan akrabnya, Rabu (24/6/2026).

Bacaan Lainnya

Para komunitas yang turut terlibat yakni Dewan Kesenian Sumsel (DKSS), Dewan Kesenian Palembang (DKP), Jaringan Kebudayaan (Jaker) Sumsel, Komunitas Pengamen Jalanan (KPJ) Palembang, Orang Indonesia (OI), Pal-7, RockIN 12, Gencar dan Asosiasi Driver Online (ADO) Sumsel.

Lalu ada Jamers, Kawali, KKPP, RMK, Musi Lady Rock (MLR) yang merupakan komunitas rockers wanita di Sumsel, Cermin Kota, RDP Center, Slankers, Petanesia Sumsel, Kobar 9, Nick Fams, Gong Sriwijaya, IBF Chater Sumsel, PGK Sumsel dan lainnya.

Selai reuni, Yayasan Kawan Lamo Galo juga menyiapkan program besar yakni Bikin Gede Bangsa (Big Bang) Indonesia, yang akan melibatkan para pelajar SMA dan SMK se-Sumsel, untuk berkarya tentang Indonesia.

“Karya mereka rencananya akan disebarluaskan ke seluruh duta besar RI yang bekerjasama juga dengan Gong Sriwijaya,” ungkapnya.

Yayasan Kawan Lamo Galo sendiri terbentuk berawal dari komunikasi yang terjalin antara pertemanan para musisi di Sumsel. Berawal dari chatting di Facebook yang diinisiasi oleh Acan Jabaudin, Dedy vokal, Sepnaldi, Yudhi, Montana, Gatot Steel, Adek Steel, Mpit dan lainnya.

Ketua Komunitas Pengamen Jalanan (KPJ) Palembang Masagus Loedy saat menyanyikan beberapa lagu lawas era 90'an, di pentas musik dan budaya dalam rangkaian perayaan HUT ke-9 Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang (Dok. Humas Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang)
Ketua Komunitas Pengamen Jalanan (KPJ) Palembang Masagus Loedy saat menyanyikan beberapa lagu lawas era 90’an, di pentas musik dan budaya dalam rangkaian perayaan HUT ke-9 Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang (Dok. Humas Yayasan Kawan Lamo Galo Palembang)

Dari gabungan anak seni Sriwijaya, pertemuan tersebut berkembang menjadi rumah bagi seniman, musisi, media, pengusaha, aktivis hingga para penikmat seni. Yang semuanya, lanjut Mpit, peduli akan seni budaya yang tergabung di Yayasan Kawan Lamo Galo.

Akhirnya Yayasan Kawan Lamo Galo resmi didirikan pada tahun 2017, yang berfokus pada pendidikan seni, sosial dan budaya. Setiap tahunnya, Yayasan Kawan Lamo Galo rutin menggelar berbagai event pentas seni.

Mulai dari Part 1 hingga Part 4 di tahun lalu yang menjadi puncak HUT ke-8 Yayasan Kawan Lamo Galo di Lawang Borotan Plasa Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, dengan konsep ‘Parade Bunyian’.

“Istana bukanlah akhir tapi awal dari perubahan. Semangat itu juga yang kami bawa. Dari komunitas, kita bangun budaya dan pendidikan untuk Indonesia lebih maju lagi,” ungkapnya. (REL)

Pos terkait