INDODAILY.CO, PALEMBANG, —- Di tengah kemarau yang disertai kabut asap, Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang menjadikan momentum tersebut sebagai ruang untuk memperkuat pembinaan kepribadian dan spiritual Warga Binaan.
Melalui pembacaan Surat Yasin, Shalat Istisqa’, dan doa bersama, jajaran dan Warga Binaan bersatu dalam ikhtiar memohon turunnya hujan sekaligus bermuhasabah untuk menjadi pribadi yang lebih baik, Jumat (18/9).
Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Utama Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang itu diikuti Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang Desi Andriyani beserta jajaran, Warga Binaan, serta peserta magang.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surat Yasin secara bersama-sama dalam suasana khidmat.
Usai pembacaan Surat Yasin, kegiatan dilanjutkan dengan Shalat Istisqa’ dan doa bersama. Dalam doa tersebut, seluruh peserta memohon kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan, membawa keberkahan dan manfaat serta membantu mengurangi dampak musim kemarau dan kabut asap.
Pelaksanaan Shalat Istisqa’ dan doa bersama ini dilaksanakan secara serentak di seluruh Satuan Kerja Pemasyarakatan di Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pembinaan kepribadian dan penguatan nilai-nilai spiritual bagi petugas, Tahanan, Anak, dan Warga Binaan.
Namun, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ritual keagamaan. Di lingkungan Pemasyarakatan, Shalat Istisqa’ menjadi sarana pembinaan yang mengajak Warga Binaan melakukan muhasabah, memperkuat mental dan spiritual, meningkatkan kepedulian sosial, sekaligus menumbuhkan budaya hemat air dan peduli terhadap lingkungan.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang, Desi Andriyani, mengatakan pembinaan kepribadian merupakan bagian penting dalam proses Pemasyarakatan karena perubahan tidak hanya dibangun melalui aturan dan kedisiplinan, tetapi juga melalui penguatan nilai moral dan spiritual.
“Melalui kegiatan ini, kita ingin mengajak Warga Binaan untuk tidak hanya berdoa memohon turunnya hujan, tetapi juga menjadikan momentum ini untuk bermuhasabah dan memperbaiki diri. Nilai-nilai keimanan yang diperoleh diharapkan dapat membentuk karakter positif serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan,” ujar Desi.
Menurutnya, kondisi kemarau dan kabut asap menjadi pengingat bersama bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab setiap orang. Karena itu, budaya hemat air dan kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi nilai yang perlu ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan Lapas.
“Selain ikhtiar spiritual, kita juga ingin membangun kesadaran bersama untuk menggunakan air secara bijak dan menjaga lingkungan. Harapannya, nilai tersebut tidak berhenti dalam kegiatan ini, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Penguatan keagamaan disampaikan Ustaz Ridho Kusmedi yang mengajak seluruh peserta memperbanyak istighfar, bertaubat, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia menekankan bahwa Shalat Istisqa’ merupakan bentuk ikhtiar manusia dalam memohon rahmat dan pertolongan Allah SWT.
“Shalat Istisqa’ merupakan salah satu bentuk ikhtiar kita dalam memohon rahmat Allah SWT. Mari kita memperbanyak istighfar, bertaubat dan berdoa dengan sungguh-sungguh agar hujan yang membawa manfaat segera diturunkan. Jadikan momentum ini sebagai pengingat untuk terus memperbaiki diri dan menjaga nikmat yang telah diberikan Allah SWT,” tutur Ustaz Ridho.
Bagi Warga Binaan, kegiatan tersebut menghadirkan makna tersendiri. Selain menjadi kesempatan untuk memperkuat keimanan, mereka juga turut merasakan dampak kondisi kemarau dan kabut asap yang terjadi.
Salah seorang Warga Binaan berharap hujan segera turun sehingga kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat berangsur teratasi.
“Kami sangat berharap hujan segera turun. Semoga hujan bisa membantu mengurangi kabut asap akibat karhutla, sehingga udara menjadi lebih bersih dan masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan nyaman. Kegiatan seperti ini juga mengingatkan kami untuk terus memperbaiki diri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah,” ungkapnya.
Bagi Lapas Perempuan Palembang, pembinaan kepribadian melalui kegiatan keagamaan merupakan bagian dari proses membangun perubahan pada diri Warga Binaan.
Pembacaan Surat Yasin, Shalat Istisqa’, dan doa bersama menjadi ruang untuk menanamkan nilai keimanan, introspeksi, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap lingkungan.
Melalui pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang terus mendorong Warga Binaan agar mampu mengembangkan sikap dan perilaku positif sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Kegiatan Shalat Istisqa’ yang dilaksanakan serentak di seluruh Satker Pemasyarakatan di Indonesia pun menjadi bagian dari ikhtiar bersama.
Bukan hanya mengetuk pintu langit untuk memohon turunnya hujan, tetapi juga mengetuk kesadaran setiap insan Pemasyarakatan untuk terus memperbaiki diri, memperkuat kepedulian, dan menjaga lingkungan.






















