OGAN ILIR, INDODAILY.CO – Universitas Sriwijaya (Unsri) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) mendampingi ibu rumah tangga di Desa Skonjing, Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel), dalam pelatihan pembuatan dan pemasaran usaha olahan singkong Thailand.
Kegiatan tersebut memadukan pendampingan proses produksi dengan pengenalan strategi pemasaran, baik secara konvensional maupun melalui media sosial.
Yang mana menjadi upaya meningkatkan pendapatan keluarga melalui pemanfaatan singkong, komoditas pangan lokal yang melimpah namun selama ini banyak dijual dalam bentuk mentah dengan harga rendah.
Kegiatan yang dilaksanakan melalui Skema Pengabdian Berbasis Masyarakat Universitas Sriwijaya Tahun 2026 tersebur bertema ‘Pelatihan Pembuatan dan Pemasaran Usaha Olahan Singkong Thailand sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Ibu Rumah Tangga di Desa Skonjing, Ogan Ilir’.
Program tersebut diketuai oleh Deta Trinalti Oktavia, S.E., M.Si., bersama tim dosen dan mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya.
Menurut Deta Trinalfi Oktaviani, tujuan kegiatan yakni memberikan pemahaman kepada ibu rumah tangga mengenai peluang pengembangan usaha melalui pengolahan singkong menjadi produk bernilai tambah.
Baik secara pemasaran konvensional maupun digital, serta pencatatan keuangan sederhana yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Desa Skonjing dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki potensi sumber daya alam dan manusia yang cukup besar,” katanya, Sabtu (7/11/2026).
Kondisi tanah yang subur dan iklim tropis membuat singkong tumbuh optimal di wilayah ini, sementara jumlah penduduknya yang mencapai 1.912 jiwa, dengan proporsi perempuan yang lebih banyak, menjadikan potensi usaha dari rumah di desa ini cukup tinggi.
Sayangnya, potensi tersebut belum banyak dimanfaatkan karena singkong masih banyak dijual dalam bentuk mentah dengan harga rendah, sementara pendapatan rumah tangga masih banyak bergantung pada hasil pertanian musiman yang tidak stabil.
Survei awal yang dilakukan tim pengabdian menemukan bahwa masyarakat Desa Skonjing, khususnya ibu rumah tangga, masih menghadapi keterbatasan sumber pendapatan dan belum banyak terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif.
“Dari temuan itu, tim memilih singkong Thailand, olahan singkong yang disajikan dengan kuah santan manis gurih dan taburan keju, sebagai produk yang dapat dikembangkan karena mampu meningkatkan nilai jual singkong dibandingkan hanya dijual mentah,” ungkapnya.
Pelatihan itu diikuti oleh 50 orang ibu rumah tangga yang dipilih secara purposif karena dinilai memiliki potensi besar untuk menjalankan usaha olahan pangan.
Serta waktu yang fleksibel untuk berbisnis dari rumah, meski masih memiliki keterbatasan pengetahuan, keterampilan, pemasaran, dan pencatatan keuangan dalam mengelola usaha.
Kegiatan diawali dengan pemberian materi teori mengenai konsep dasar kewirausahaan dan potensi olahan singkong melalui metode ceramah dan diskusi interaktif.
Peserta kemudian diajak praktik langsung membuat produk olahan singkong Thailand, mulai dari pemilihan dan persiapan bahan baku, proses pengolahan, pembuatan saus, penyajian, hingga pengemasan produk.
“Selain keterampilan produksi, peserta juga dibekali pelatihan mengenai perhitungan usaha, mulai dari kebutuhan modal, biaya bahan baku, harga pokok produksi, hingga estimasi keuntungan,” katanya.
Tim turut mengenalkan peserta pada peluang pemasaran digital melalui media sosial seperti WhatsApp, TikTok, dan Instagram, dengan pendekatan yang disesuaikan secara bertahap dengan kemampuan peserta.
Melalui pendampingan tersebut, peserta diperkenalkan pada cara mendokumentasikan dan membagikan foto produk, menentukan target konsumen, hingga mempraktikkan cara menawarkan dan mempromosikan produk kepada calon pembeli.
“Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta yang signifikan,” ucapnya.
Pada pre-test, hanya 5 peserta atau 10 persen yang memperoleh nilai pada rentang tertinggi, sementara pada post-test jumlah itu melonjak menjadi 38 peserta atau 76 persen.
Sebaliknya, peserta dengan nilai terendah menurun drastis dari 32 orang atau 64 persen menjadi hanya 3 orang atau 6 persen.
Peningkatan itu menunjukkan bahwa materi yang disampaikan dapat diserap dengan baik oleh sebagian besar peserta, yang juga mampu mempraktikkan seluruh tahapan produksi hingga pengemasan dengan peralatan dapur sederhana dan modal awal yang relatif kecil.
Pendampingan tidak berhenti pada tahap pelatihan. Tim pengabdian melanjutkan proses monitoring melalui diskusi bersama peserta untuk membimbing dan memotivasi mereka memulai usaha, sekaligus mendampingi kendala yang dihadapi di lapangan.
“Ke depannya, tim merencanakan pendampingan berkala melalui grup WhatsApp, memperkuat kerja sama jangka panjang bersama pemerintah Desa Skonjing,” ungkapnya.
Serta membuka peluang replikasi program ke lokasi atau kelompok masyarakat lain agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
“Kegiatan itu menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan ekonomi ibu rumah tangga di pedesaan,” ujarnya.
Sekaligus implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, dengan harapan keterampilan mengolah singkong yang telah diperoleh peserta dapat berkembang menjadi usaha mikro yang mandiri dan berkelanjutan.
Selain Deta Trinalti Oktavia, S.E., M.Si. sebagai ketua PkM, kegiatan tersebut didukung oleh anggota pengabdian Nurul Syahbela, S.Tr., Ak., M.Ak; Riska Tharika, S.E., M.Acc., Akt., ACPA; Shelly Prahadian Putri, S.E., M.Si.; Mahdanisa Anggita Hasibuan, S.E., M.Si.; dan Rahellia Panjaitan, S.P., M.M.
Kegiatan pengabdian juga melibatkan mahasiswa, yakni Idea Nj Kanesyah, Anisa Kartika Sari, Nurma Diah, Aqila Nacha Fayyaza, dan Tegar Ramadanza.






















