Dampak Pembangunan Proyek Tol, Petani Padi Desa Sakatiga Seberang Terancam Gagal Tanam

INDODAILY.CO, OGAN ILIR — Sejumlah para petani Padi di Desa Sakatiga Seberang Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) merasa khawatir dan terancam gagal tanam.

Kekhawatiran tersebut lantaran lahan persawahan tempat mereka bercocok tanam Padi di Kawasan Jln. Sakatiga – Tajung Senai, Indralaya, hingga saat ini masih digenangi air yang cukup tinggi akibat curah hujan yang akhir – akhir ini masih menguyur Wilayah Kabupaten Ogan Ilir.

Sehingga, terbedungnya alur Anak Sungai Kelekar dampak dari pengerjaan Proyek Pembangunan Ruas Jln. Tol Simpang Indralaya – Prabumulih (IndraPrabu).

Salah satu petani warga Desa Sakatiga Seberang Syamsul Bahri mengatakan, seharusnya musim tanam tahun ini sudah dimulai pada pertengahan bulan April atau awal bulan Mei lalu, dan pada bulan Juli atau Agustus petani sudah bisa panen.

Dikatakan Syamsul, namun melihat kondisi debit air diareal persawahan saat ini masih terbilang cukup tinggi, rata – rata mencapai 60 hingga 1 meter, dengan terpaksa petani menunda kegiatan mengelolah sawahnya.

“Biasanya di pertengahan bulan April atau bulan Mei, kami petani sudah bisa melakukan penanaman padi, dan pada bulan Juli atau bulan Agustus kami sudah bisa panen. Namun kini sudah bulan Juli kami belum bisa melakukan pengelolaan sawah. Ini, disebabkan oleh terbedungnya alur anak Sungai Kelekar, dampak dari pengerjaan proyek pembangunan Jln. Tol Simpang IndraPrabu,” ujar Syamsul saat diwawancarai indodaily.co, Kamis (21/07/2022).

Syamsul menyebut, sehingga air tidak bisa mengalir secara normal seperti biasanya. Belum lagi ditambah curah hujan yang akhir – akhir ini masih menguyur Wilayah Kabupaten Ogan Ilir.

Lebih lanjut, Syamsul memastikan jika kondisi itu tidak mendapat solusi segera, maka petani akan selalu terlambat dalam bercocok tanam padi, dan hal itu akan mempengaruhi masa tanam berikutnya. Terganggunya pola tanam ini, maka kemungkinan penurunan produksi hingga gagal panen menjadi ancaman besar para petani.

“Jika petani tidak mengikuti pola tanam yang sudah ditetapkan maka akan berdampak banyak hal, mulai dari hama hingga harga,” ucapnya.

Para petani berharap kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Ogan Ilir untuk segera mencarikan solusinya bagi masyakat petani di Desa Sakatiga Seberang. Seperti dengan membuat Jembatan baru atau gorong – gorong besar di Jalan Sakatiga – Tanjung Senai, dengan demikian air akan dapat mengalir dengan normal seperti biasanya, dan petani dapat mengelola sawahnya dengan baik.

Selain itu juga dulu, saat pasang ikan – ikan sungai masuk ke lahan persawahan melalui alur anak sungai Kelekar yang tertutup tersebut.

“Kami berharap kepada Pemda Kab. Ogan Ilir untuk membuka kembali aliran anak Sungai Kelekar, yang terbendung atau tertutup oleh Pembangunan Jln. Sakatiga – Tajung Senai. Dulu sebelum tertutup jalan, saat pasang maupun surut air mengalir dengan normal, dan ada banyak ikan – ikan sungai yang masuk kelahan persawahan warga melalui alur anak Sungai Kelekar,” ungkap Syamsul.

Sementara itu, Kepala Desa Sakatiga Seberang Muhamad Kamil mengatakan, ada sekitar 300 hektar lahan tanaman padi produktif berupa hamparan di wilayah Desa Sakatiga Seberang, jika semua lahan ini dikelolah dengan baik, dengan didukung sistem irigasi yang baik pula. Maka Desa Sakatiga Serang akan menjadi lahan bagi ketahanan pangan sebagai lumbung padi Kab. Ogan Ilir.

“Luas hamparan lahan persawahan ada sekitar 300 hektar lebih, rata – rata pemilik lahan sawah ini adalah warga Desa Sakatiga dan Sakatiga Seberang. Biasanya para petani dapat memproduksi padi sekitar 120.000 Kg, pertahunnya,” tuturnya.

Lajut, M. Kamil mengatakan, seperti yang kita lihat saat ini, para petani di Desa Sakatiga Seberang belum bisa mengelolah sawah mereka, karena lahan pertanian mereka masih digenangi air, dengan debit air yang cukup tinggi.

Hal tersebut disebabkan terbendungnya alur anak Sungai Kelekar dampak dari pengerjaan proyek pembangunan Jalan Tol Simpang IndraPrabu. Dampaknya air lambat surut, ikan – ikan sungai tidak bisa masuk, kemudian petani menjadi terhambat melakukan pengelolaan sawah mereka.

“Jika kita lihat disisi kanan ruas Jln. Sakatiga – Tajung Senai kondisi airnya sudah hampir mulai kering, namun disisi kiri jalan debit airnya masih sangat tinggi bisa mencapai 1 meter an. Ada Jembatan Sungai Ubar, namun alur sungai di buntu oleh proyek pembangunan Jln. Tol Simpang IndraPrabu,” katanya.

Menurut Kamil, pihaknya juga berharap agar Pemda Kabupaten Ogan Ilir dapat membuka kembali alur anak Sungai Kelekar yang terbendung tersebut, dengan membuatkan jembatan baru atau gorong – gorong besar.

“Sehingga air dapat keluar masuk dengan lancar, dan para petani dapat membuka lahan pertanian mereka seperti pada tahun – tahun sebelumnya,” tandas M. Kamil.

Pos terkait