Warga Pulokerto Gandus Belajar Bikin Tempe, Lapas Perempuan Palembang Dorong Kemandirian UMKM di Desa Binaan

Upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat terus dilakukan Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang melalui Program Desa Binaan.

INDODAILY.CO, PALEMBANG, —- Upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat terus dilakukan Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang melalui Program Desa Binaan.

Kali ini, warga Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus, Palembang, mendapatkan pelatihan pembuatan tempe sebagai bekal keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pelatihan yang digelar di halaman RT 22 Kelurahan Pulokerto tersebut diikuti sekitar 50 peserta.

Kegiatan turut dihadiri Kasi Kegiatan Kerja Lapas Perempuan Palembang, Sariany Nababan beserta jajaran, Kasi PMK Kecamatan Gandus, Ketua RW 04, Ketua RT 21, 22 dan 23, serta perwakilan warga dari masing-masing RT, Kamis (27/8).

Berbeda dari pelatihan pada umumnya, kegiatan ini menghadirkan dua orang warga binaan Lapas Perempuan Palembang yang sehari-hari bekerja pada bagian produksi tempe sebagai instruktur. Mereka didampingi petugas Seksi Kegiatan Kerja untuk memberikan penjelasan sekaligus mendampingi peserta selama praktik.

Bacaan Lainnya

Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat langsung dalam seluruh tahapan pembuatan tempe. Mulai dari proses pencampuran ragi hingga pengemasan dilakukan bersama-sama agar warga memperoleh pengalaman praktis yang dapat diterapkan secara mandiri.

Kasi Kegiatan Kerja Lapas Perempuan Palembang, Sariany Nababan, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari komitmen Lapas Perempuan Palembang dalam memberikan manfaat nyata kepada masyarakat melalui program desa binaan.

“Kami ingin keterampilan yang selama ini dikembangkan di dalam Lapas tidak hanya bermanfaat bagi warga binaan, tetapi juga dapat dibagikan kepada masyarakat. Melalui pelatihan pembuatan tempe ini, kami berharap warga Pulokerto memiliki keterampilan baru yang bisa dikembangkan menjadi peluang usaha dan sumber penghasilan keluarga,” ujar Sariany.
Ia menambahkan, pembuatan tempe dipilih karena proses produksinya relatif dapat dipelajari dan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai usaha rumahan.

Sementara itu, Kasi Bimbingan Kerja dan Pengolahan Hasil Kerja (Bimker dan Lolasker), Yocke Mella, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi bentuk pemberdayaan terhadap warga binaan yang memiliki keterampilan di bidang produksi tempe untuk menjadi instruktur pelatihan, sebagai salah satu wujud pembinaan agar mereka dapat kembali mendapatkan kepercayaan diri untuk nantinya kembali hidup bermasyarakat setelah selesai menjalani masa pidana.

“Kami melihat keterampilan warga binaan dapat memberikan dampak yang lebih luas. Hari ini mereka tidak hanya belajar bekerja, tetapi juga diberi ruang untuk berbagi ilmu kepada masyarakat. Harapannya terjadi transfer keterampilan yang nantinya bisa membuka peluang usaha baru bagi warga,” tutur Yocke.
Menurutnya, pelatihan semacam ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan praktik saja, tetapi dapat dilanjutkan oleh masyarakat secara berkelanjutan hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.

Antusiasme juga terlihat dari para peserta yang mengikuti setiap tahapan praktik. Salah seorang perwakilan warga Kelurahan Pulokerto mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan pengalaman baru yang dinilai dapat menjadi peluang usaha bagi masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih karena mendapatkan kesempatan belajar langsung membuat tempe. Ternyata prosesnya bisa dipelajari dan kalau ditekuni, kami berharap bisa menjadi usaha tambahan untuk membantu perekonomian keluarga,” ungkapnya.

Melalui kegiatan tersebut, Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang berharap Program Desa Binaan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu menghadirkan keterampilan yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang.

Pelatihan pembuatan tempe ini sekaligus menjadi wujud sinergi antara Lapas Perempuan Palembang, pemerintah setempat, dan masyarakat Kelurahan Pulokerto dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis keterampilan dan potensi UMKM lokal.

Pos terkait