INDODAILY.CO, PALEMBANG, —- Potongan kain yang tersisa dari proses produksi tak selalu berakhir sebagai limbah. Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Palembang, kain perca disulap menjadi vest fesyen yang kreatif dan bernilai jual.
Produk tersebut lahir dari kegiatan pembinaan kemandirian di ruang jahit dan bordir Lapas Perempuan Palembang. Berbekal keterampilan menjahit dan kreativitas, Warga Binaan memadukan potongan kain dengan beragam motif menjadi vest dengan karakter dan tampilan yang unik, Selasa (22/9).
Pemanfaatan kain perca ini menjadi salah satu bentuk upaya mengoptimalkan bahan sisa produksi. Material yang sebelumnya tidak lagi digunakan diolah kembali menjadi produk fesyen yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Koleksi vest hasil karya Warga Binaan tersebut dibanderol mulai dari Rp275.000 hingga Rp480.000. Perbedaan motif, bahan, dan desain menjadi bagian dari karakter masing-masing produk.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang, Sariany Nababan, mengatakan pembuatan vest dari kain perca menjadi bagian dari pembinaan yang diarahkan untuk mengasah keterampilan sekaligus mendorong kreativitas Warga Binaan.
“Melalui pembuatan vest dari kain perca, kami ingin mendorong Warga Binaan agar terus berinovasi dan mengembangkan keterampilan yang dimiliki. Bahan yang sebelumnya dianggap sebagai sisa produksi ternyata dapat diolah menjadi produk fesyen yang menarik dan memiliki nilai jual. Kami berharap keterampilan ini dapat menjadi bekal bagi Warga Binaan untuk mengembangkan usaha setelah kembali ke masyarakat,” ujar Sariany.
Menurut Sariany, keterampilan yang diperoleh selama mengikuti kegiatan kerja diharapkan tidak berhenti pada proses produksi. Warga Binaan juga didorong untuk melihat peluang ekonomi dari setiap produk yang dihasilkan.
Sementara itu, Kepala Subseksi Sarana Kerja Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang, Selvia Mendairty, menjelaskan bahwa koleksi vest tersebut menjangkau konsumen melalui sejumlah kanal penjualan.
Produk karya Warga Binaan ditawarkan secara langsung kepada pegawai, pejabat, dan tamu yang berkunjung ke Lapas Perempuan Palembang. Produk juga diperkenalkan kepada masyarakat melalui bazar yang digelar pada sejumlah kesempatan.
Selain penjualan secara langsung, masyarakat dapat melihat dan membeli produk melalui website SiCantik LPP Palembang yang dapat diakses melalui https://sentraindustri-sicantik.com/products.php. Platform tersebut menjadi salah satu sarana pemasaran produk hasil karya Warga Binaan agar dapat menjangkau konsumen secara lebih luas.
“Kami berupaya memperluas pemasaran produk karya Warga Binaan agar dapat menjangkau lebih banyak pembeli. Koleksi vest ini tidak hanya ditawarkan kepada pegawai, pejabat, dan tamu yang berkunjung, tetapi juga kepada masyarakat melalui bazar dan website SiCantik. Dengan begitu, hasil pembinaan kemandirian dapat dikenal lebih luas dan memiliki peluang pemasaran yang lebih besar,” jelas Selvia.
Hasil penjualan produk karya Warga Binaan tersebut juga memberikan kontribusi terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Dengan demikian, kegiatan pembinaan kemandirian tidak hanya menghasilkan produk bernilai ekonomi dan memberikan keterampilan bagi Warga Binaan, tetapi juga turut mendukung penerimaan negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Inovasi mengolah kain perca menjadi vest tersebut turut mendukung pelaksanaan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam penguatan pembinaan kemandirian serta pengembangan dan pemasaran produk hasil karya Warga Binaan.
Melalui kegiatan di ruang jahit dan bordir, Warga Binaan mendapatkan pengalaman mulai dari mengolah bahan, menghasilkan produk hingga mengenalkan hasil karya kepada konsumen. Proses tersebut menjadi bagian dari pembekalan keterampilan yang diharapkan dapat mendukung kemandirian Warga Binaan ketika kembali dan berintegrasi di tengah masyarakat.
Dari potongan kain yang sederhana, lahir sebuah karya yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga membuka peluang ekonomi.
Kreativitas Warga Binaan Lapas Perempuan Palembang menunjukkan bahwa bahan sisa pun dapat memiliki nilai ketika diolah dengan keterampilan dan inovasi.






















