INDODAILY.CO, OKI – Hampir empat bulan dilanda kemarau, masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menempuh ikhtiar spiritual untuk menghadapi lahan yang mengering, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kabut asap yang mengganggu aktivitas warga. Salat Istisqa atau salat meminta hujan digelar serentak di 18 kecamatan sebagai bentuk doa dan harapan agar hujan segera turun.
Di Kayuagung, salat diikuti Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki, Wakil Bupati Supriyanto, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala organisasi perangkat daerah (OPD), para santri, dan masyarakat, Jumat (9/10/2026).
Sebelum salat dimulai, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) OKI, Ustadz Muazni, memandu jemaah. Salat dipimpin Ustadz Abdurrohim Al Hafidz selaku imam tetap Masjid Agung Sholihin.
Di tengah doa yang dipanjatkan, upaya penanganan karhutla juga terus dilakukan. Bupati Muchendi mengatakan, pemerintah bersama berbagai unsur terkait telah menempuh sejumlah langkah, mulai dari penetapan status siaga hingga pengerahan personel gabungan untuk mencegah dan memadamkan kebakaran.
Penanganan di lapangan melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah pusat dan provinsi, serta masyarakat peduli api.
“Berbagai upaya sudah dilakukan bersama-sama di lapangan. Namun, dengan segala keterbatasan yang kita miliki, kita juga memohon pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar diturunkan hujan yang membawa keberkahan bagi Kabupaten OKI,” kata Muchendi di Kayuagung.
Ia berharap hujan segera turun untuk membasahi lahan yang mengering, membantu penanganan kebakaran, serta mengurangi kabut asap yang berdampak pada kehidupan masyarakat.
Muchendi juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga diminta segera melaporkan kepada pihak terkait jika menemukan indikasi kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin.
Usai salat, jemaah mendengarkan tausiah yang disampaikan Ustadz H. Beni Hidayat L.C. Dalam ceramahnya, ia mengajak masyarakat menjadikan kemarau panjang beserta berbagai kesulitan yang menyertainya sebagai momentum untuk memohon ampunan, memperbanyak istigfar, dan memperbaiki hubungan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ia juga mengingatkan bahwa ikhtiar memohon hujan perlu berjalan seiring dengan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Pembakaran lahan secara sengaja, menurutnya, tidak hanya merusak alam, tetapi juga dapat menimbulkan penderitaan bagi banyak orang akibat asap yang mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
“Mari kita memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan berharap keberkahannya. Pada saat yang sama, kita harus menjaga perilaku dan lingkungan. Membakar lahan dengan sengaja hingga asapnya mengganggu kesehatan dan kehidupan orang banyak merupakan perbuatan yang tidak boleh dianggap sepele,” ujar Beni. (*)





















