INDODAILY.CO, PALEMBANG — Suasana Ramadan di Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang tahun ini terasa lebih khusyuk. Sejak awal bulan suci, ratusan warga binaan tampak rutin mengikuti tadarus Al-Qur’an dan salat tarawih berjamaah sebagai bagian dari program pembinaan keagamaan yang diintensifkan pihak lapas.
Setiap hari, warga binaan ditargetkan membaca satu juz Al-Qur’an. Dalam pelaksanaannya, sebagian besar mampu memenuhi target tersebut. Bahkan, beberapa warga binaan yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an lebih baik sanggup menyelesaikan hingga empat sampai lima juz dalam sehari, pada Selasa (24/2).
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang, Desi Andriyani, mengatakan bahwa program ini merupakan upaya pembinaan spiritual agar warga binaan dapat memanfaatkan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri.
> “Kami menargetkan satu hari satu juz bagi warga binaan yang mengikuti tadarus. Alhamdulillah, rata-rata bisa tercapai. Bahkan ada yang mampu membaca empat sampai lima juz dalam sehari. Ini menjadi semangat positif bagi yang lain,” ujar Desi.
Selain tadarus, sekitar 500 warga binaan juga diwajibkan mengikuti salat tarawih berjamaah setiap malam. Ibadah dilaksanakan di lapangan lapas dengan pengawasan petugas. Jika cuaca tidak mendukung, kegiatan dipindahkan ke aula dengan sistem perwakilan agar tetap berjalan tertib.
Menurut Desi, keterlibatan aktif warga binaan dalam kegiatan keagamaan menunjukkan adanya perubahan sikap yang signifikan selama menjalani masa pembinaan.
> “Ramadan menjadi momen refleksi. Kami berharap setelah bebas nanti, mereka memiliki bekal spiritual yang lebih kuat dan bisa kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik,” tambahnya.
Salah seorang warga binaan, sebut saja R (32), mengaku kegiatan tadarus dan tarawih memberinya ketenangan batin yang selama ini jarang ia rasakan.
> “Dulu saya jarang membaca Al-Qur’an. Di sini justru saya belajar lebih rutin. Target satu juz sehari membuat saya lebih disiplin. Hati terasa lebih tenang dan saya jadi lebih banyak merenung,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan S (27), yang mengaku mampu menyelesaikan lebih dari satu juz setiap hari.
> “Ramadan kali ini berbeda buat saya. Saya ingin memperbaiki diri. Semoga setelah keluar nanti, saya bisa istiqamah dan tidak mengulangi kesalahan,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Dengan pengawasan dan pendampingan petugas, seluruh rangkaian ibadah berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan. Melalui program ini, Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang berharap Ramadan menjadi titik balik bagi warga binaan untuk menata kembali kehidupan mereka ke arah yang lebih baik.






















