Berawal dari Konflik Pertanahan, Camat Lempuing Ciptakan Aplikasi Situberuk

 

INDODAILY.CO, OKI – Banyaknya konflik pertanahan di Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Camat Lempuing, Hendra Anggara S.STP, akhirnya menciptakan inovasi yang bisa menyelesaikan permasalahan ini. Namanya aplikasi sistem informasi tanah terpadu berbasis register dan ukuran koordinat (Situberuk).

Bahkan dari aplikasi ini mengantarkannya terpilih Juara pertama Camat inovatif se- Sumatera Selatan (Sumsel).

Kalau dilihat dari konotasinya Situberuk ini negatif, tapi pihak Kecamatan Lempuing Jaya ingin membranding dan membangun image. Karena Seberuk itu nama ikan yang sudah langkah bukan nama Beruk. Makanya logo yang dibuat logo ikan.

Camat Lempuing, Hendra Anggara S.STP mengatakan, setahun saat ia masuk ke Kecamatan Lempuing Jaya pada tahun 2020 dihadapkan banyaknya konflik pertanahan karena 70 persen terjadi masalah surat tanah ganda.

Dikatakan Hendra, bahwa dengan objek tidak jelas bahkan ada kawasan hutan produksi regiater sialang ditengah kota seluas 10.000 hektare yang sekarang tidak ada lagi, sudah jadi pemukiman penduduk karena sempat terjadi jual beli surat saja.

“Makanya kita mencoba membuat aplikasi tentang penataan surat pengakuan hak atas tanah serba digital terintegrasi di 16 desa tidak mungkin orang asal membuat surat tanah saja,” ujar Hendra Anggara kepada indodaily.co, Senin (27/12/2021).

Hendra menurutnya, bahwa yang menjadi unik nomor register unik tapi ia tahu karena angkanya unik, dimana angka pertama register nomor kode kecamatan/ desa nomor urut tanah, tahun pembuatan register langsung nyambung ke aplikasi Situberuk yang bisa di download lewat playstore.

Kemudian, ada barkot pada surat tanah bisa langsung masuk ke peta Geography Information System (GIS) tinggal di klik. Dengan cara ini maka kedepan tidak ada lagi penggandaan surat tanah di wilayahnya.

“Kami berharap BPN mau dengan sukarela mau memberikan data sertifikat, sehingga nanti sejengkal tanah yang ada diketahui terdata dengan jelas,” ucapnya.

Hendra menyebut, bahwa untuk pengajuan permohonan masuk ke aplikasi ini ada lebih kurang 350-400 pemohon. Sosialisasi masyarakat terus dilakukan karena sekarang sebagian besar masyarakat sudah memiliki android. Tinggal sentuh kode QR saja.

“Jadi jangan ragu lagi meskipun mereka tinggal di luar Sumsel, kalau membeli surat tanah kalau keluar dari aplikasi Situberuk maka tanah itu aman tidak akan terjadi masalah,” imbuhnya.

Hendra mengungkapkan, bagi warga yang akan mengajukan pembuatan sertifikat tanah, itu ada tiga lapis 3 kode keamanan yang mengetahuinya hanya kades, kasi pemerintahan dan camat. Pengajuan bisa dilihat pada prosesnya apakah ada di salah satu kata kunci tersebut. Selain secara online petugas secara manual juga turun ke lapangan.

Menurutnya, tak dipungkiri memang ada sebagian wilayah kesulitan jaringan internet dan ini akan diintegrasikan tahun depan, karena membangun desa digital baik sistem pelayanan maupun jaringan sudah bekerjasama dengan indihome provider target sudah memiliki internet desa dan digitalisasi desa.

“Untuk di Indonesia baru kecamatan kami (Lempuing_red), yang ada aplikasi ini. Bahkan saya tidak pernah terpikir dari inovasi yang dihasilkan tersebut bisa meraih juara satu se-Sumsel dalam Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi. Karena prestasinya tersebut akan mewakili Sumsel ke tingkat nasional,” tandasnya.

Pos terkait