INDODAILY.CO, PALEMBANG, —- Keterampilan warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang terus dikembangkan menjadi produk bernilai jual.
Terbaru di bidang Bakery, warga binaan memproduksi beragam menu Pastry dan kue, seperti banana pastry, bolen pisang, kuru-kuru, zuppa soup, pie buah, serta kue sus.
Setiap harinya menu yang dibuat bervariasi, seperti halnya hari ini sebanyak 40 paket kue sus yang dibuat ludes terjual, Sabtu (12/09).
Produksi kue sus tersebut merupakan bagian dari pembinaan kemandirian yang dilaksanakan Seksi Kegiatan Kerja Lapas Perempuan Palembang di bidang Tata Boga, khususnya Bakery. Keterampilan pastry yang diterapkan merupakan hasil pelatihan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Tahun 2026.
Tidak berhenti pada pelatihan, keterampilan tersebut terus dipraktikkan melalui kegiatan produksi. Warga binaan diberi kesempatan mengasah kemampuan mulai dari proses pembuatan hingga menghasilkan produk yang siap dipasarkan kepada warga binaan maupun masyarakat.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang, Sariany Nababan, mengatakan pengembangan produk menjadi langkah penting untuk memastikan keterampilan yang diperoleh warga binaan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat.
> “Pelatihan yang telah diberikan kami tindak lanjuti melalui praktik dan pengembangan produk. Kami ingin keterampilan warga binaan terus terasah sekaligus mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai jual dan dapat diterima oleh masyarakat,” ujar Sariany.
Menurutnya, respons positif terhadap produk yang dihasilkan menjadi dorongan bagi pihaknya untuk terus mengembangkan pembinaan kemandirian. Larisnya kue sus yang dijual menunjukkan adanya peluang pasar sekaligus menjadi motivasi bagi warga binaan untuk meningkatkan kualitas produk.
Hal senada disampaikan Kepala Subseksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang sekaligus penanggung jawab kegiatan, Yocke Mella Hijriyah. Ia menyebut produksi kue sus dan produk pastry lainnya ini menjadi sarana bagi warga binaan untuk mempraktikkan langsung keterampilan pastry yang telah dipelajari.
> “Kami berharap agar produk Bakery yang ada di Lapas Perempuan Palembang dapat terus dikembangkan dengan menu-menu baru yang mengikuti permintaan pasar. Respons ini tentu menjadi motivasi bagi warga binaan untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan mengembangkan produk-produk baru yang berkualitas,” tutur Yocke.
Pengembangan produk pastry ini juga sejalan dengan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam penguatan dan peningkatan pendayagunaan warga binaan melalui program kemandirian dan pengembangan produk UMKM.
Lapas Perempuan Palembang terus mendorong pembinaan yang tidak sekadar memberikan keterampilan, tetapi juga pengalaman nyata dalam proses produksi dan pemasaran.
Dengan demikian, kemampuan yang diperoleh warga binaan diharapkan dapat menjadi bekal produktif sekaligus membuka peluang kemandirian ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.






















