INDODAILY.CO, PALEMBANG, — Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimanfaatkan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (BEM FKIP) Universitas PGRI Palembang sebagai ruang perjuangan intelektual melalui kegiatan Mimbar Bebas Mahasiswa. Kegiatan yang berlangsung pada 6 Mei 2026 tersebut menjadi wadah penyampaian aspirasi, kritik sosial, dan refleksi mahasiswa terhadap kondisi pendidikan serta demokrasi di Indonesia yang dinilai masih menghadapi banyak persoalan.
Mimbar Bebas Jadi Ruang Aspirasi dan Perlawanan Intelektual
Kegiatan Mimbar Bebas digelar dengan nuansa penuh semangat perjuangan mahasiswa. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan Sumpah Mahasiswa, Mars Mahasiswa, hingga lagu Buruh Tani yang membangkitkan semangat solidaritas peserta.
Tidak hanya menjadi agenda seremonial, kegiatan ini juga menghadirkan pertunjukan drama teatrikal yang menggambarkan realitas sosial dan tantangan dunia pendidikan saat ini. Melalui penampilan tersebut, mahasiswa mencoba menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan pendidikan yang dianggap semakin jauh dari nilai keadilan dan kemanusiaan.
Orasi Mahasiswa Soroti Pendidikan dan Kesejahteraan Akademik
Suasana semakin hidup ketika para Bupati Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) menyampaikan orasi ilmiah dan kritik terbuka mengenai berbagai persoalan yang dihadapi mahasiswa maupun dunia pendidikan nasional.
Dalam orasinya, mahasiswa menyinggung isu mahalnya biaya pendidikan, minimnya kesejahteraan tenaga pendidik, hingga sistem pendidikan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada peserta didik dan generasi muda.
Berbagai keresahan tersebut menjadi bentuk refleksi bahwa mahasiswa tidak hanya hadir di ruang akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap kondisi sosial di tengah masyarakat.
Puisi Demokrasi dan Elegi Pendidikan Bangkitkan Kesadaran Kolektif
Selain orasi, kegiatan Mimbar Bebas juga diisi dengan pembacaan Puisi Demokrasi dan Puisi Elegi Pendidikan. Penampilan tersebut menghadirkan suasana reflektif yang menyentuh emosi peserta.
Lewat bait-bait puisi, mahasiswa mengajak seluruh peserta untuk kembali menyadari pentingnya menjaga demokrasi, memperjuangkan kebebasan berpikir, serta mempertahankan hak masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas.
BEM FKIP Tegaskan Pendidikan Bukan Komoditas
Gubernur Mahasiswa FKIP UPGRIP, Uci Oktawati, didampingi Wakil Gubernur Ade Alif Maulana dan Ketua Umum DPM FKIP Ari Yanto, turut menyampaikan aspirasi terkait kondisi pendidikan nasional.
Dalam penyampaiannya, Uci menegaskan bahwa pendidikan seharusnya menjadi hak seluruh masyarakat tanpa diskriminasi, bukan dijadikan alat politik maupun komoditas ekonomi.
“Pendidikan bukan barang dagangan dan bukan alat kepentingan politik. Pendidikan adalah hak seluruh rakyat tanpa terkecuali. Kami ingin pendidikan yang merata, guru yang dihargai, dan siswa yang berkembang tanpa tekanan sistem yang tidak berpihak,” tegas Uci Oktawati.
Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan peserta yang hadir dalam kegiatan Mimbar Bebas.
Lilin dan Tabur Bunga Jadi Simbol Kepedulian Pendidikan
Menjelang akhir acara, suasana berubah menjadi lebih khidmat saat seluruh peserta bersama-sama menyanyikan Hymne Guru sebagai bentuk penghormatan kepada jasa para pendidik.
Kegiatan kemudian ditutup dengan prosesi tabur bunga dan menyalakan lilin sebagai simbol refleksi atas perjuangan pendidikan di Indonesia. Aksi tersebut juga menjadi bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi pendidikan yang dinilai masih menghadapi berbagai tantangan serius.
Mahasiswa Tegaskan Peran sebagai Agen Perubahan
Melalui kegiatan ini, mahasiswa FKIP UPGRIP menunjukkan bahwa peran mahasiswa tidak hanya sebatas mengikuti proses akademik di kampus, tetapi juga menjadi agen perubahan yang kritis terhadap persoalan sosial, pendidikan, dan demokrasi.
BEM FKIP UPGRIP berharap semangat solidaritas, keberanian menyuarakan aspirasi, serta kepedulian terhadap masa depan pendidikan Indonesia dapat terus tumbuh di kalangan mahasiswa.






















